Jejak KataLiputan

Ruwet! Proyek Gedung SMAN 30 Ditolak, Katanya Itu Lahan Produktif?

×

Ruwet! Proyek Gedung SMAN 30 Ditolak, Katanya Itu Lahan Produktif?

Sebarkan artikel ini
FOTO: Puluhan petani penggarap di Desa Kaliasin melempar batu dan lumpur ke lokasi lahan yang akan dibangun SMAN 30 Kabupaten Tangerang.

Menurutnya, ada sekitar 30 orang petani penggarap yang menggantungkan hidupnya pada lahan seluas sekitar 2 hektar ini. Apalagi masih terus menghasilkan produksi beragam tanaman pangan. Di sekitar lokasi juga telah dibangun saluran irigasi pertanian. Dengan lepasnya 2 hektar lahan ini, kata Mustafa, akan menambah jumlah kemiskinan dan pengangguran di desa itu. Pasalnya lahan sawah produktif seluas 2 hektar ini menjadi tumpuan mata pencaharian mereka.

“Ada 30 petani yang hidupnya dari mengolah sawah ini. Kalau dijadikan sekolah, terus kami hidup ini bagaimana, darimana dapat penghasilan, ini kan lahan produktif. Kenapa harus dialihfungsikan jadi bangunan. Kan masih banyak lahan kosong lain yang bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Sepenggal Catatan Silam dan Munculnya Pahlawan dari Kabupaten Tangerang

Hal lain yang membuat warga menolak, sesuai dengan UU No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), lahan pertanian produktif tidak diperbolehkan untuk dijadikan lokasi pembangunan.

Sementara itu Sekertaris Desa Kaliasin Kecamatan Sukamulya Wahyu menjelaskan, para petani Desa Kaliasin menolak dengan adanya pembangunan gedung SMAN 30 Kabupaten Tangerang, karena lokasinya itu masih menjadi lahan dan ladang para petani. Selain itu juga ada saluran irigasi utama yang fungsinya bisa menyalurkan air ke beberap sawah dan ladang para petani.

“Kami meminta untuk dikaji ulang atau bahkan di rencanakan ulang untuk lokasi lahan yang akan dibangun di wilayah Desa Kaliasin, Kecamatan Sukamulya ini, karena ada nasib para petani yang dirugikan, mungkin bisa di cari lahan yang lain, yang lebih layak dan pas untuk dibangun Sekolah SMAN 30 Kabupaten Tangerang,” harapnya.

Respon (1)

  1. sudah cukup sekolah negri d bangun d wilayah ni sebab akan berpengaruh pd sekolah swasta sekelilingnya.. coba lihat d SMK 2 sepatan jumlah siswa sekolah sampe 54 org… Pantesan aja sekolah sekolah swasta pd tutup.. yg d negrinya menerima terus terusan pd hal rombelnya sdh penuh melebihi kapasitas suguh gak wajar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *