Dari 2.000 ton sampah yang dihasilkan setiap harinya itu, kata Taufik, tidak bisa di-cover oleh armada kendaraan truk yang hanya 213 unit. Sehingga tidak heran, pihaknya kerap mendapatkan laporan dan keluhan dari masyarakat soal adanya tumpukan sampah. Karena menurut Taufik, dari 2.000 ton sampah perhari itu idealnya diangkut oleh sekitar 800 armada truk.
BACA JUGA: Jos Gandos! Ada Pengalaman Unik di Kawasan Pulau Merak Besar
Dari situlah, perlu adanya kerjasama, serta kesadaran dari masyarakat untuk ikut bersama-sama memerangi sampah di daerah ini. Karena, masyarakat tidak bisa hanya berpangku tangan kepada pemerintah dalam menangani persoalan sampah ini. Masyarakat wajib ngerti! Yaitu dengan mengurangi penggunaan plastik, serta tidak membuang sampah di sembarang tempat.
Pun demikian, DLHK Kabupaten Tangerang tidak tinggal diam. Program memerangi sampah yang kian hari kian menggunung itu juga dilakukan dengan berbagai trobosan, yang diharapkan menjadi solusi dalam penanganan sampah.
Program itu, diantaranya adalah membentuk kelompok bank-bank sampah, serta membangun TPST3R. Hal ini dimaksudkan agar sampah-sampah, baik yang organik maupun an-organik bisa dipilah dan dipilih sehingga dapat memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat yang mengelola. Dengan begitu, sampah yang diangkut ke TPA ini nantinya adalah sampah yang benar-benar tidak memiliki manfaat dan memang harus dibuang atau dihancurkan. Di samping DLHK juga memiliki program penanganan sampah melalui pembudidayaan maggot atau Black Soldier Fly (BSF).






