Menurut Mikke Susanto dalam pengantar tertulisnya yang bertajuk: “Kedirian dan Beyond Language,” komunikasi dan cara berbahasa rupa-lah yangmenjadi pengikat mereka dalam tema ini. Pameran ini brtujuan ingin mengungkap ide dan membahasakannya agar menjadi pengalaman bersama.
Lukisan yang mereka sajikan adalah tuturan tentang kehendak, pikiran,imajinasi, sekaligus harapan yang diekspresikan. “Bahasa” sering diindentikkan dengan kemampuan mengomposisikan berbagai elemen di dalamnya.
“Warna, garis, tekstur atau berbagai teknik pencampuran atasnya membentuk narasi adalah beberapa diantaranya, selain gaya, aliran atau nilai-nilai eksternal pada sebuah karya. Saya menangkap ada kesamaan dan kebedaan di dalamnya,” beber Mikke.
Sementara itu Prof. Tjetjep Rohendi, guru besar Universitas Negeri Semarang, sebelum mebuka pameran mengatakan, sewaktu pertama kali masuk Kota Semarang pada tahun 1978 melihat di Semarang menurut pengamatannya, hanya ada satu corak lukisan seperti yang melekat hingga kini.






