kondisi stunting juga dialami secara global dan terjadi di negara lain. Jumlah itu setara dengan 22 persen anak-anak balita yang ada di dunia pada tahun 2020 dan jelas tidak bisa dianggap remeh.
Apalagi menurut UNICEF, data ini sebetulnya merupakan estimasi sebelum 2020 karena adanya pandemi Covid-19 yang menghalangi proses pengumpulan data sebenarnya. Hal ini membuat UNICEF cemas kalau kondisi stunting sebetulnya bisa jauh lebih buruk.
Menurut UNICEF, anak-anak yang menderita stunting tak hanya mengalami masalah tinggi badan dan perkembangan otak saja, tapi juga berpengaruh ke perekonomian mereka ketika dewasa.
Kondisi ini terjadi berkat rentetan kesulitan belajar di sekolah, membuat mereka tak bisa memperoleh pekerjaan memuaskan sebagai orang dewasa dan memiliki penghasilan yang rendah.
Data anak stunting di Indonesia memang masih cukup tinggi. Walau begitu, jika melihat data anak stunting menurut WHO berdasarkan negara yang terdampak malnutrisi, kondisi Indonesia jauh lebih rendah daripada negara-negara di Afrika. Secara berturut-turut yang tertinggi adalah Kongo (40,8 persen), Ethiopia (35,3 persen), dan Rwanda (32,6 persen).
Pemerintah mengajak peran aktif masyarakat untuk sama-sama melakukan pencegahan stunting serta memberantas masalah gizi pada bayi. Hal ini agar seluruh masyarakat mengambil peran aktif untuk bersama-sama mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045. Untuk itu, baca yuk artikel berikutnya yang berjudul: Cara Mencegah Anak Mengalami Stunting. (*






