Jejak KataSoft News

Rumah Baca Annur, Oase di Daerah Pesisir yang Dikepung Pabrik

×

Rumah Baca Annur, Oase di Daerah Pesisir yang Dikepung Pabrik

Sebarkan artikel ini
Anak-anak sedang membaca di Rumah Baca Annur

JEJAK KATA, Cirebon – Buku yang bagus dan bermutu adalah senjata untuk memerangi kebodohan. Sayangnya ketersediaan bacaan yang bagus sangat sedikit, distribusinya pun terbatas hanya di wilayah-wilayah perkotaan yang mudah dijangkau. Di daerah-daerah pinggiran dan terpencil akan sangat sulit bagi masyarakat di sana untuk mengakses bacaan. Perpustakaan sekolah susah ditemui, kalau pun ada, koleksi bukunya sangat kurang memadai, hanya berisi buku-buku paket yang desain dan warnanya kurang menarik minat anak-anak. Sedangkan program-programnya juga nyaris tidak ada.

Namun bila kita memasuki Desa Limbangan yang berada di daerah pantura perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah tepatnya di Losari, sebuah kecamatan yang ada di wilayah dan Kabupaten Brebes bagian barat yang beririsan dengan ujung timur Kabupaten Cirebon, kita akan mendapati pemandangan langka. Di desa ini terdapat Rumah Baca Annur. Rumah Baca Annur ibarat oase di tengah gurun.

Bukan hanya anak-anak sekolah, Rumah Baca Annur dikunjungi mahasiswa dan anak-anak muda karyawan pabrik yang ingin memuaskan dahaga mereguk bahan bacaan. Di ruangan seluas 7 x 3 meter itu mereka memilih bacaan dan membaca dan diskusi. Buku yang mereka gemari umumnya buku fiksi.

Rumah Baca Annur didirikan oleh Raudloh pada 2018. Berdirinya Rumah Baca Annur bermula dari keprihatinan Raudloh. Saat itu dia masih kuliah pada 2013 di IKIP Siliwangi Bandung. Saat dia pulang kampung dia mendapati keponakannya ketinggalan dalam beberapa mata pelajaran.

Pengelola Rumah Baca Annur bersama dengan kontributor jejakkata.news dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu

“Dari situ ketika saya balik ke Bandung dan mulai membeli buku anak-anak dari hasil saya les privat. Sampai saya lulus lumayan banyak tuh bukunya. Tapi gak langsung kembali ke kampung, saya ikut program mengajar ke pelosok sampai akhir 2017 baru selesai. Dan baru bisa merealisasikan Rumah Baca Annur sekitar Februari 2018 di Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Brebes,” tutur Raudloh pertengahan Mei 2025.

Dibantu sang kakak, Raudloh membuat rak sendiri. Mereka kami beli besi dan triplek kemudian merakitnya mejadi rak. “Masyarakat mengira kamu mau buka toko. Tapi lama-lama masyarakat tahu tujuan Rumah Baca Annur berdiri,” kata Raudloh yang juga seorang guru di SMPN 2 Tanjung, Brebes.

Rumah Baca Annur awalnya hanya memfasilitasi anak-anak supaya lebih dekat dengan bahan bacaan, dalam perkembangannya juga menjadi wadah anak-anak mengembangkan diri dalam hal seni, akademik, dan lainnya. Di tengah pertumbuhan pabrik-pabrik di wilayah tersebut sejak lima tahun belakangan yang tentunya membawa perubahan budaya dan rawan pergesekan sosial, Rumah Baca Annur menjadi oase yang menyejukkan.

Hingga saat ini koleksi buku yang ada di Rumah Baca Annur lebih dari 2 ribu eksemplar. Sejak 2018 ada lebih dari seribu peminjam. Agar rumah baca yang dikelolanya terus semarak Raudloh membuat program yang disebut biasa banget, yaitu meminjamkan dan membaca buku, bermain bareng setiap sore, mengaji setiap ba’da maghrib.

“Kadang kalau anak minta les ada, kami juga memberi les. Selain itu ada program mingguan, yaitu jalan-jalan keliling kampung , kadang pakai sepeda, kadang jalan kaki. Jum’at sore anak-anak latihan Rebana,” kata Raudloh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *