JEJAK KATA, Tangerang – Di tengah derasnya arus media sosial dan gawai yang tak pernah berhenti berbunyi, masih ada ruang sunyi yang terus dijaga di Kabupaten Tangerang. Ruang itu bernama perpustakaan, tempat buku-buku tetap percaya bahwa cerita mampu mengubah cara manusia memandang dunia.
Agustus 2026 mendatang, Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang kembali menggelar Lomba Bertutur, sebuah agenda tahunan yang melibatkan pelajar tingkat SD/MI hingga SMP/MTs. Sekilas, kegiatan ini tampak seperti perlombaan biasa. Namun, di balik panggung dan deretan piala, tersimpan misi yang jauh lebih besar: menumbuhkan generasi yang gemar membaca, berpikir kritis, dan mampu menyampaikan gagasan dengan percaya diri.
Di era ketika perhatian anak-anak sering direbut layar digital yang berganti setiap beberapa detik, lomba bertutur menjadi pengingat bahwa kemampuan bercerita tetap menjadi salah satu warisan paling berharga dalam peradaban manusia. Sebelum manusia mengenal internet, pengetahuan diwariskan melalui kisah. Dan hingga kini, cerita tetap menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Ironisnya, kita hidup pada zaman yang banjir informasi tetapi kerap kekurangan pemahaman. Banyak orang gemar membaca judul, tetapi enggan menuntaskan isi. Cepat berkomentar, namun jarang menyelami makna. Di sinilah literasi menemukan perannya—bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan kembali sebuah gagasan.
Lomba bertutur menjadi cara sederhana, tetapi efektif, untuk menghidupkan kembali budaya tersebut.
Setiap peserta tidak hanya dituntut mampu berbicara di depan umum. Mereka juga harus memahami cerita yang dibawakan, menghayati pesan yang terkandung di dalamnya, lalu menyampaikannya dengan ekspresi yang mampu menyentuh pendengar. Karakter seperti inilah yang sesungguhnya sedang dibangun: keberanian, empati, kreativitas, dan kecintaan terhadap membaca.
Upaya serupa juga telah terlihat dalam berbagai kegiatan literasi yang digelar sebelumnya. Pada lomba tingkat SMP/MTs, Chelsea Destyana Ahab dari SMPN 2 Cikupa berhasil meraih juara pertama, disusul Komang Mahakreshna Putra Tarukan dari SMP Atisa Dipamkara Lippo di posisi kedua, serta Aries Nugraha dari SMP Islam Plus Insan Robbani Tigaraksa sebagai juara ketiga.
Sementara pada kategori SD/MI, juara pertama diraih Raisya Rasyidikia Rahma dari SD Dewi Kunti. Posisi kedua ditempati Genoveva Eucharistia Mariska dari Sekolah Dian Harapan LV Karawaci, sedangkan Nabila Aprilia Rusmana dari SDN Sangiang III meraih juara ketiga.
Nama-nama itu mungkin hanya tercatat sebagai pemenang lomba. Namun, sesungguhnya mereka sedang menjadi wajah dari sebuah gerakan yang lebih besar: gerakan menjadikan membaca sebagai kebiasaan, bukan kewajiban.
Sebab, bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi atau kawasan industri yang terus bertambah. Ia juga dibangun oleh anak-anak yang akrab dengan buku, berani bertanya, mampu bercerita, dan terbiasa berpikir.
Mungkin itulah makna sesungguhnya dari lomba bertutur. Bukan sekadar mencari siapa yang paling fasih berbicara, melainkan menanam benih-benih peradaban. Karena setiap cerita yang dibaca hari ini bisa menjadi inspirasi, penemuan, atau bahkan perubahan besar di masa depan.
Dan di tengah dunia yang semakin gaduh oleh suara-suara instan, barangkali kita memang membutuhkan lebih banyak anak yang mau membaca, lalu menceritakan kembali dunia dengan cara yang lebih bijaksana. (*






