Soft News

Bass Organ Tunggal Vs Koloni Tawon, Bikin Pesta Nikah di Lampung Kalang Kabut

×

Bass Organ Tunggal Vs Koloni Tawon, Bikin Pesta Nikah di Lampung Kalang Kabut

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Jenis tawon vespa | Istimewa

JEJAK KATA, Lampung – Di Indonesia, pesta pernikahan hampir selalu punya satu rumus baku: tenda, prasmanan, pelaminan, dan organ tunggal yang suaranya kadang digeber sampai ke langit. Mengabarkan kepada seisi kampung bahwa dua insan telah resmi bersatu.

Namun, di Desa Merak Belantung, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, beberapa waktu lalu, ada tamu yang rupanya tidak menikmati dentuman musik itu. Tanpa undangan. Tidak pula membawa amplop, apalagi niat untuk ikut berjoget.

Puluhan tawon vespa mendadak keluar dari sarangnya yang diduga terganggu oleh dentuman bass organ tunggal. Dalam sekejap, pelaminan kehilangan pusat perhatian. Para tamu berlarian lebih cepat daripada ketika dipanggil menikmati hidangan. Kru musik menghentikan permainan, sementara pengantin yang seharusnya sibuk menerima ucapan selamat justru ikut mencari tempat aman.

Organ tunggal akhirnya kalah telak. Bukan oleh protes tetangga, melainkan oleh segerombolan serangga yang sedang mempertahankan rumahnya.

Jika biasanya manusia menganggap dirinya penguasa setiap pesta, kejadian itu menjadi pengingat bahwa alam memiliki aturan sendiri. Bagi koloni tawon, dentuman keras mungkin bukan hiburan, melainkan ancaman yang harus dijawab dengan naluri bertahan hidup.

Untunglah personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lampung Selatan segera datang. Dengan perlengkapan khusus, mereka mengevakuasi sarang tawon sehingga pesta akhirnya dapat kembali berlangsung tanpa “pengawal bersayap” yang siap menyerang siapa saja.

Peristiwa itu terdengar lucu. Namun, angka-angka yang dimiliki Damkarmat justru menunjukkan kenyataan yang jauh dari sekadar cerita hajatan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Damkarmat Lampung Selatan melakukan 377 operasi penyelamatan non-kebakaran. Yang mengejutkan, 229 di antaranya adalah evakuasi sarang tawon.

Artinya, petugas damkar kini lebih sering berurusan dengan tawon daripada api.

“Bisa dikatakan tawon menjadi yang paling banyak kami tangani. Hampir setiap hari ada laporan masyarakat terkait sarang tawon di permukiman,” ujar Kepala Damkarmat Lampung Selatan, Rully Fikriansyah.

Statistik itu seperti sindiran halus kepada cara manusia memandang alam. Kita sibuk membangun rumah, ruko, jalan, bahkan panggung hiburan, sementara satwa liar diam-diam mencari ruang hidup yang semakin sempit. Ketika mereka memilih atap rumah atau pohon dekat permukiman sebagai tempat bersarang, manusia menganggap mereka pengganggu. Padahal, bisa jadi manusialah yang lebih dulu mengganggu keseimbangan habitatnya.

Tentu, bukan berarti masyarakat harus membiarkan sarang tawon berada di lingkungan yang membahayakan. Keselamatan tetap menjadi prioritas. Karena itu, Rully mengingatkan agar warga tidak mencoba mengevakuasi sarang tawon sendiri. Sengatan tawon vespa dapat berbahaya, terutama jika menyerang secara berkelompok.

Pesannya sederhana: serahkan kepada petugas yang memiliki keahlian dan perlengkapan memadai.

Ada ironi yang menarik dari kisah ini. Selama ini masyarakat mengenal damkar sebagai pasukan pemadam api. Padahal, kenyataannya mereka kini menjadi penyelamat dalam berbagai situasi yang jauh dari kobaran api—mulai dari evakuasi hewan liar, penyelamatan warga, hingga memindahkan koloni tawon yang tiba-tiba ingin menjadi bintang utama sebuah pesta.

Mungkin, setelah kejadian di Lampung Selatan, daftar persiapan resepsi perlu ditambah satu poin kecil: bukan hanya mengecek kualitas sound system, tetapi juga menengok pepohonan dan atap di sekitar lokasi. Sebab, kadang yang paling terganggu oleh suara organ bukanlah tetangga sebelah. Melainkan alam yang selama ini diam. (*WIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *