Soft News

Gerendeng, Kampung Tua yang Menyimpan Jejak Benteng Bambu Tangerang

×

Gerendeng, Kampung Tua yang Menyimpan Jejak Benteng Bambu Tangerang

Sebarkan artikel ini
Foto udara jembatan Kaca yang berlokasi di Jl. Benteng Makasar, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten | Sumber: Diskominfo Kota Tangerang

JEJAK KATA, Kota Tangerang – Di tengah padatnya Kota Tangerang, nama Gerendeng mungkin terdengar seperti nama kampung biasa. Namun, siapa sangka, nama itu dipercaya menyimpan kisah panjang tentang pertahanan, keberanian, dan awal mula lahirnya sebuah kota.

Menurut buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang karya Burhanudin, Kampung Gerendeng telah dikenal sejak sekitar tahun 1407, jauh sebelum Belanda datang ke wilayah Tangerang. Artinya, kampung ini menjadi salah satu permukiman tertua yang ikut menyaksikan perjalanan panjang kota di tepi Sungai Cisadane.

Asal nama Gerendeng juga bukan sekadar sebutan tanpa makna. Berdasarkan cerita yang diwariskan turun-temurun, kawasan ini dahulu menjadi lokasi “pagar endeng“, yakni pagar pertahanan yang terbuat dari bambu. Benteng sederhana itu digunakan para prajurit Priyangan untuk menghadang serangan musuh.

Seiring waktu, penyebutan pagar endeng perlahan berubah dalam bahasa sehari-hari menjadi Gerendeng. Nama itu kemudian melekat hingga sekarang, menjadi penanda sebuah kampung yang lahir dari kisah perjuangan.

“Di sini dulu tempat pagar pertahanan prajurit Priyangan. Dari istilah pagar endeng, masyarakat Sunda kemudian menyingkatnya menjadi Gerendeng,” tulis Burhanudin.

Kini, wajah Gerendeng tentu sudah jauh berbeda. Lorong-lorong kampung dipenuhi rumah, pertokoan, dan aktivitas warga. Kawasan ini bahkan menjadi salah satu wilayah terpadat di Kota Tangerang.

Secara wilayah, masyarakat mengenal dua kawasan, yakni Gerendeng yang berada di bantaran Sungai Cisadane dan Gerendeng Tegal di sebelah barat Jalan Otista Karawaci.

Meski terus berkembang, Gerendeng tetap menjadi cermin keberagaman. Penduduk asli dan pendatang hidup berdampingan, membentuk lingkungan multikultural yang menjadi salah satu kekuatan sosial Kota Tangerang.

Di sisi lain, kampung tua ini kini memiliki wajah baru yang lebih modern. Jembatan Kaca Berendeng, yang membentang di atas Sungai Cisadane, menjadi ikon wisata sekaligus penghubung Kota Tangerang bagian barat dan timur. Kawasan di sekitarnya juga rutin menjadi pusat penyelenggaraan Festival Cisadane, acara budaya yang setiap tahun menghidupkan kembali hubungan masyarakat dengan sungai yang menjadi nadi kota.

Gerendeng pun mengajarkan satu hal menarik: nama sebuah tempat sering kali bukan sekadar penanda di peta. Ia adalah jejak sejarah yang menyimpan cerita tentang benteng bambu, keberanian para penjaga kota, hingga bagaimana sebuah kampung tua mampu bertransformasi menjadi ruang hidup yang modern tanpa kehilangan akar sejarahnya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *