SETIAP musim kemarau datang, hujan selalu duduk di kursi pesakitan. Sumur mengering, sawah retak, warga mengantre air bersih. Vonisnya hampir selalu sama: gara-gara hujan tidak turun.
Padahal, kalau awan bisa membela diri, mungkin ia akan berkata, “Saya sudah setor air berbulan-bulan. Yang bermasalah bukan langit, tapi rekening bumi kalian sudah ditutup beton.”
Kabupaten Tangerang adalah contoh yang menarik. Sebagai dataran rendah, wilayah ini sejatinya memiliki “brankas” air tanah yang melimpah. Namun, dalam dua dekade terakhir, brankas itu pelan-pelan disegel oleh kawasan industri, pergudangan, perumahan, dan pusat-pusat komersial. Tanah yang dulu gemar “minum” air hujan, kini dipaksa menjalani diet resapan.
Hasilnya mulai terasa. Baru memasuki kemarau 2026, enam kecamatan—Panongan, Curug, Kelapa Dua, Sukadiri, Kronjo, dan Mekar Baru—sudah meminta bantuan air bersih. BPBD bahkan memetakan sekitar 20 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan hingga September. Artinya, yang sedang mengering bukan hanya sumur warga, tetapi juga kemampuan tanah menyimpan air.
Ironisnya, kita justru bangga membangun kota yang sangat piawai mengusir hujan. Hampir setiap kompleks perumahan kini dilengkapi drainase beton U-Ditch yang bekerja sangat disiplin: begitu hujan turun, air langsung “check out” menuju sungai tanpa sempat menginap di dalam tanah. Sistem ini memang ampuh mengatasi genangan. Sayangnya, ia juga sangat ampuh mengurangi tabungan air tanah jika tidak diimbangi sumur resapan.
Belum lagi “demam betonisasi”. Jalan lingkungan yang lalu lintasnya lebih sering dilewati sepeda anak-anak daripada truk kontainer pun ikut dicor. Padahal, di banyak lokasi, paving block sudah lebih dari cukup. Paving masih memberi napas bagi tanah. Beton? Ia seperti memasang plester permanen di pori-pori bumi.
Lalu kita heran mengapa sumur cepat kering.
Di bawah permukaan, persoalannya makin rumit. Kabupaten Tangerang sebagai kawasan industri membutuhkan air dalam jumlah besar. Ribuan sumur bor bekerja nyaris tanpa libur. Air tanah terus ditarik, sementara proses pengisiannya semakin lambat. Dalam ilmu hidrologi, ini disebut overeksploitasi akuifer. Dalam bahasa sederhana: tabungan terus diambil, buku tabungannya bahkan sudah hilang.
Perubahan iklim kemudian datang sebagai “penyanyi tamu”. Hujan turun deras dalam waktu singkat, tetapi tanah yang sudah terbungkus beton hanya bisa berkata, “Maaf, penuh.” Air pun berlari ke sungai, memicu banjir. Sebulan kemudian, sumur mengering. Kita akhirnya akrab dengan dua musim baru: musim banjir dan musim minta air.
Mobil tangki memang penting sebagai penyelamat saat darurat. Namun, jangan sampai ia menjadi pelanggan tetap setiap tahun. Yang dibutuhkan bukan sekadar distribusi air, melainkan perubahan cara membangun. Sumur resapan, biopori, embung, ruang terbuka hijau, serta penggunaan material yang lebih ramah resapan harus menjadi bagian dari perencanaan, bukan sekadar pemanis dokumen.
Kemarau sesungguhnya bukan penjahat. Ia hanya auditor yang datang setahun sekali untuk memeriksa “neraca air” kita. Dan setiap kali audit itu dilakukan, hasilnya hampir selalu sama: debit pembangunan naik, tetapi saldo air tanah terus turun.
Jadi, sebelum kembali menyalahkan langit, mungkin ada baiknya kita menoleh ke bawah kaki sendiri. Bisa jadi penyebab krisis air bukan karena hujan lupa turun, melainkan karena bumi sudah terlalu sibuk memakai “sepatu beton” hingga lupa cara menyerap air. (*
Oleh: Jejak Kata






