Soft News

Dari Kerupuk Sisa Menjadi Primadona: Seblak, Pedasnya Mengalahkan Zaman

×

Dari Kerupuk Sisa Menjadi Primadona: Seblak, Pedasnya Mengalahkan Zaman

Sebarkan artikel ini
Seblak | Istimewa

DI dapur-dapur sederhana di tanah Parahyangan, sejarah kuliner kadang tidak lahir dari resep istana atau jamuan bangsawan. Ia justru muncul dari sesuatu yang nyaris dibuang. Sebungkus kerupuk mentah yang mulai kehilangan masa depannya, sedikit kencur, segenggam cabai, lalu kreativitas yang lebih tajam daripada pisau dapur. Dari pertemuan itulah lahir seblak—kuliner yang kini membuat jutaan lidah rela berkeringat.

Hari ini, seblak menjelma menjadi salah satu makanan jalanan paling populer di Indonesia. Namun, jauh sebelum antrean panjang memenuhi kedai-kedai modern dan media sosial dipenuhi tantangan “level pedas”, seblak hanyalah cerita tentang cara masyarakat Sunda berdamai dengan keterbatasan.

Jejaknya dapat ditelusuri ke wilayah Parahyangan, terutama Garut, Cianjur Selatan, dan Bandung. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, masyarakat di sejumlah daerah telah mengenal kerupuk leor—kerupuk mentah yang direbus hingga lembek, lalu dimasak menggunakan bumbu sederhana. Teksturnya jauh dari kata renyah, tetapi justru di situlah letak pesonanya.

Pada masa ketika bahan makanan harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak ada ruang bagi pemborosan. Kerupuk yang sudah lama disimpan atau kehilangan kerenyahannya tidak langsung berakhir di tempat sampah. Ia diberi “kesempatan hidup kedua”. Direbus hingga kenyal, lalu dipertemukan dengan bawang putih, cabai, dan kencur. Dapur rakyat mengajarkan satu hal sederhana: kreativitas sering kali lahir ketika keadaan sedang tidak ramah.

Bandung kemudian menjadi panggung yang membuat seblak dikenal luas pada awal 2000-an. Dari warung kaki lima, aroma kencur yang khas mulai menguasai sudut-sudut kota. Tidak butuh waktu lama hingga makanan ini menjelajah ke berbagai daerah. Seblak seolah membuktikan bahwa resep sederhana pun bisa menjadi bintang utama, asalkan punya karakter yang sulit dilupakan.

Nama seblak sendiri menyimpan kisah yang tak kalah menarik. Banyak yang meyakini istilah itu berasal dari kata nyeblak dalam bahasa Sunda, yang menggambarkan sensasi mengejutkan atau menyengat. Rasanya memang demikian. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, cabai menyerbu tanpa aba-aba, sementara aroma kencur datang belakangan seperti tokoh utama yang terlambat muncul, tetapi langsung mencuri perhatian.

Ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan kata segak atau nyegak, yang merujuk pada aroma dan rasa yang menusuk hidung. Apa pun asal-usulnya, satu hal sulit dibantah: seblak bukan makanan yang pandai berbisik. Ia lebih suka “berteriak” melalui rasa.

Pada awal kemunculannya, isi seblak sangat sederhana. Kerupuk basah menjadi pemeran utama yang ditemani bawang putih, cabai, dan kencur. Namun, seperti banyak kisah kuliner Nusantara, perjalanan waktu membuatnya terus berevolusi.

Pedagang mulai bereksperimen. Telur hadir lebih dulu, disusul makaroni, mi, bakso, siomai, sosis, ceker ayam, hingga aneka seafood. Semangkuk seblak kini sering kali lebih ramai daripada rapat keluarga saat Lebaran. Hampir semua bahan terasa cocok diajak bergabung, selama sang kencur tetap memegang peran utama.

Di balik kepopulerannya, seblak sesungguhnya menyimpan pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar soal rasa. Ia adalah simbol bagaimana masyarakat mampu mengubah bahan sederhana menjadi sesuatu yang bernilai. Dari kerupuk yang hampir kehilangan fungsi, lahirlah hidangan yang kini menjadi identitas kuliner Jawa Barat dan dicintai lintas generasi.

Mungkin itulah alasan seblak begitu mudah diterima. Ia tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari kecerdikan. Tidak dibesarkan oleh dapur mewah, melainkan oleh tangan-tangan yang terbiasa memanfaatkan apa yang ada.

Dan setiap kali semangkuk seblak tersaji dengan kuah merah mengepul, aroma kencurnya seakan membawa kembali jejak panjang dari dapur-dapur tua di Parahyangan—tempat sejarah membuktikan bahwa kadang-kadang, makanan paling dikenang justru berasal dari bahan yang nyaris dilupakan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *