JEJAK KATA, Tangerang – Ada cinta yang lahir dari sepiring makan siang. Bukan melalui bunga atau surat yang diselipkan diam-diam, melainkan dari semangkuk mie ayam yang mengepul hangat di atas meja. Di Cikupa, Kabupaten Tangerang, kisah itu telah bertahan puluhan tahun melalui sebuah nama yang sederhana, sekaligus mengundang senyum: Mie Ayam I Love You.
Namanya terdengar seperti potongan lirik lagu. Namun bagi banyak warga Tangerang, kalimat itu bukan sekadar ungkapan kasih sayang. Ia adalah penunjuk arah menuju salah satu kedai mie ayam yang telah menemani perjalanan hidup lintas generasi.
Jejak mie ayam sendiri bermula jauh sebelum menjadi menu wajib di hampir setiap sudut kota di Indonesia. Akar kuliner ini berasal dari tradisi masyarakat Tionghoa yang membawa budaya mengolah mi berbahan gandum ke Nusantara. Seiring waktu, semangkuk mi itu menemukan rumah barunya. Ia berbaur dengan lidah lokal, berkenalan dengan rempah-rempah Indonesia, lalu perlahan berubah menjadi hidangan yang terasa begitu akrab.
Di tangan masyarakat Indonesia, mie ayam bukan lagi sekadar mi dengan irisan daging. Ia berevolusi menjadi cerita tentang pagi yang sibuk, makan siang yang sederhana, hingga malam yang diakhiri dengan semangkuk kuah hangat. Dari gerobak kayu yang berkeliling kampung hingga kedai modern berpendingin udara, mie ayam tetap berhasil mempertahankan satu hal: kemampuannya membuat orang ingin kembali.

Di Cikupa, cerita itu memiliki alamat yang jelas.
Mie Ayam I Love You mulai dikenal sejak era Orde Baru. Kedai pertamanya berdiri di kawasan bekas Toserba Mitra Indo, Jalan Otonomi Pasar Kemis, Cikupa. Ketika kawasan di sekitarnya berubah mengikuti perkembangan zaman, aroma kuah dan suara denting mangkuk dari kedai ini tetap menjadi bagian dari ingatan banyak orang.
Mungkin itulah yang membuat tempat ini layak disebut legendaris. Ia tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh bersama perubahan Kabupaten Tangerang. Dari satu kedai sederhana, Mie Ayam I Love You kemudian berkembang membuka cabang di Pasar Kemis, Citra Raya Square, Binong-Curug, Bitung, Km 13 Cirewed, hingga Food Court Mardi Gras Citra Raya. Seolah membuktikan bahwa rasa yang jujur selalu menemukan jalannya sendiri.
Semangkuk Mie Ayam I Love You tidak tampil dengan kemewahan. Justru kesederhanaannya yang menjadi daya tarik. Mienya kenyal, berpadu dengan potongan ayam berbumbu gurih yang meresap hingga ke serat daging. Kuahnya tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menghangatkan setiap suapan.
Meski bukan kedai bakso, pengunjung juga dapat menikmati tambahan bakso yang memiliki tekstur padat dan terasa kaya daging. Dalam bahasa para penikmat kuliner, sensasinya sering disebut “kres”—kenyal, padat, dan memuaskan di setiap gigitan. Bukan bakso yang hanya besar rupa, melainkan benar-benar terasa isinya.
Barangkali, rahasia terbesar kedai ini bukan hanya soal resep. Melainkan kemampuannya menyimpan kenangan. Ada pelanggan yang dahulu datang bersama orang tuanya, kini kembali mengajak anak-anak mereka menikmati semangkuk mie yang sama. Waktu berganti, wajah pelanggan berubah, tetapi rasa yang dicari tetap serupa.
Di tengah menjamurnya kuliner viral yang silih berganti memenuhi media sosial—datang cepat, ramai sebentar, lalu menghilang—Mie Ayam I Love You memilih jalan yang berbeda. Ia tidak mengejar sensasi, melainkan kesetiaan. Tidak sibuk menjadi yang paling ramai, tetapi tetap menjadi tempat yang selalu dirindukan.
Mungkin itulah makna sesungguhnya dari sebuah kuliner legendaris. Ia tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan. Dan di Cikupa, setiap semangkuk Mie Ayam I Love You seolah berbisik pelan kepada para pelanggannya: ada rasa yang tak lekang oleh waktu, dan ada cinta yang ternyata bisa disajikan dalam semangkuk mie hangat. (*






