JEJAK KATA, Tangerang – Sejarah sebuah daerah tidak selalu ditulis di atas batu prasasti. Ada yang tumbuh pelan di batang pohon, menguning saat musim berganti, lalu dikenang melalui rasa yang menempel di lidah. Begitulah kisah Rambutan Parakan, buah yang sejak lama menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Kabupaten Tangerang.
Di tengah riuh pembangunan yang mengubah sawah menjadi jalan raya dan kebun menjadi deretan bangunan, Rambutan Parakan akhirnya memperoleh pengakuan yang selama ini seolah hanya hidup dalam ingatan kolektif warga. Kementerian Hukum dan HAM RI resmi menerbitkan Sertifikat Indikasi Geografis, menegaskan bahwa buah ini bukan sekadar komoditas musiman, melainkan identitas yang berakar kuat pada tanah Kabupaten Tangerang.
Pengakuan itu terasa seperti sebuah penanda zaman. Sebab, jauh sebelum nama BSD City, Gading Serpong, atau kawasan industri memenuhi percakapan, bentang alam Tangerang adalah hamparan kebun yang memayungi kehidupan warganya. Di Cisauk, Legok, Pagedangan, Curug, Kelapa Dua, hingga Panongan, pohon-pohon Rambutan Parakan tumbuh berjajar, menjadi peneduh sekaligus sumber penghidupan.
Musim panen selalu datang membawa suasana yang berbeda. Anak-anak memunguti buah yang jatuh, para petani memanjat dahan dengan cekatan, sementara halaman rumah berubah menjadi tempat berkumpul keluarga. Rambutan bukan sekadar buah pencuci mulut. Ia adalah alasan untuk pulang, berbagi, dan merawat kebersamaan.
Nama “Parakan” pun lahir dari cerita yang sederhana, tetapi menyimpan jejak ekonomi masyarakat tempo dulu. Menurut dokumen Indikasi Geografis, rambutan ini dahulu diperdagangkan seharga seperak. Dari kata “perakan“, lidah masyarakat perlahan mengubahnya menjadi “Parakan”. Sebuah perubahan kecil yang kemudian menjelma menjadi nama besar. Sejarah memang kerap lahir bukan dari peristiwa megah, melainkan dari kebiasaan yang terus diulang oleh waktu.
Rambutan Parakan memiliki keistimewaan yang sulit disangkal. Daging buahnya putih, tebal, padat, mudah terlepas dari bijinya atau ngelotok, dengan rasa manis yang bersih dan tekstur renyah karena kandungan airnya tidak berlebihan. Di tengah serbuan buah-buahan impor dengan tampilan yang memikat etalase, Rambutan Parakan tetap mempertahankan pesonanya melalui sesuatu yang lebih abadi: cita rasa dan cerita.
Keunggulan itu telah diakui pemerintah sejak 2003 melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 518/Kpts/PD.210/10/2003 yang menetapkannya sebagai varietas unggulan Kabupaten Tangerang. Perjalanan panjang berikutnya berbuah manis ketika pada 2024 Rambutan Parakan resmi memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis. Pencapaian itu menjadikannya rambutan pertama di Indonesia yang mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis, sekaligus menjadi kebanggaan baru bagi Provinsi Banten.
Namun, sejarah selalu berjalan beriringan dengan tantangan. Pohon-pohon yang dahulu mendominasi lanskap kini semakin jarang ditemui. Alih fungsi lahan terus menggerus ruang tumbuhnya. Kebun-kebun perlahan berganti pagar beton, sementara ranting-ranting tua yang pernah menjadi saksi perjalanan Tangerang satu per satu menghilang dari pandangan.
Di sinilah makna sesungguhnya dari Sertifikat Indikasi Geografis. Ia bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk menjaga warisan. Sertifikat itu tidak akan membuat pohon berbuah jika tanahnya telah hilang, dan tidak akan menghidupkan sejarah jika generasi muda berhenti mengenalnya.
Karena itu, menjaga Rambutan Parakan bukan sekadar melestarikan satu varietas buah. Ini adalah ikhtiar mempertahankan ingatan sebuah daerah. Sebab, setiap kali kulit merah itu dikupas dan daging putihnya dinikmati, yang sesungguhnya sedang diwariskan bukan hanya rasa manis, melainkan kisah panjang tentang tanah, manusia, dan waktu yang telah membesarkan Kabupaten Tangerang.
Mungkin kelak wajah Tangerang akan terus berubah mengikuti zaman. Gedung-gedung akan semakin tinggi dan jalan-jalan semakin ramai. Namun selama masih ada pohon Rambutan Parakan yang berakar di tanahnya, daerah ini akan selalu memiliki cara sederhana untuk mengingat dari mana ia berasal. (*






