EsaiJejak Kata

Dari Sepiring Nasi Uduk ke Bentrokan Berdarah: Pagi Kelabu di Jalan Tambak Menteng

×

Dari Sepiring Nasi Uduk ke Bentrokan Berdarah: Pagi Kelabu di Jalan Tambak Menteng

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

MINGGU pagi di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, semula berjalan sebagaimana mestinya. Warung nasi uduk mulai dipenuhi pembeli, aroma santan mengepul, dan warga memulai hari dengan rutinitas yang sederhana. Namun, ketenangan itu runtuh hanya dalam hitungan menit.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kepolisian menerima laporan bentrokan antar kelompok warga. Siang itu, Jalan Tambak berubah menjadi lokasi kerusuhan. Satu orang meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), seorang lainnya masih kritis. Sebuah bangunan semi permanen dan empat sepeda motor hangus terbakar.

Kepolisian mengungkap, pangkal persoalan diduga berawal dari cekcok di sebuah warung penjual sarapan di dekat Masjid Jami Matraman. Hasil penyelidikan sementara menyebut sekelompok orang datang membeli makanan, lalu diduga merasa tidak terlayani dengan baik. Mereka pergi, tetapi kembali bersama sejumlah rekannya. Polisi menduga gerobak penjual nasi uduk dirusak, memicu kemarahan warga yang kemudian melakukan serangan balasan.

Keributan menjalar hingga Jalan Tambak Nomor 85. Polisi menemukan puing bangunan, batu berlumuran darah, dan kendaraan yang terbakar. Delapan orang telah diamankan untuk dimintai keterangan. Penyidik juga masih mendalami identitas para pihak serta motif sebenarnya di balik bentrokan tersebut.

Menjelang malam, situasi mulai kondusif. Garis polisi masih membentang, sementara warga perlahan kembali beraktivitas. Namun, satu nyawa tak akan pernah kembali.

Ironisnya, di negeri yang begitu akrab dengan slogan persaudaraan, kadang harga sebuah emosi jauh lebih mahal daripada harga sepiring nasi uduk. Yang terbakar bukan hanya bangunan dan sepeda motor, tetapi juga nalar. Ketika amarah mengambil alih, orang tak lagi sibuk mencari kebenaran, melainkan mencari lawan.

Di era ketika setiap potongan video dapat menyebar dalam hitungan detik, publik pun dihadapkan pada godaan untuk segera memihak. Padahal, serpihan informasi sering kali lebih cepat berlari daripada fakta yang utuh. Di situlah provokasi menemukan panggungnya.

Karena itu, peristiwa di Jalan Tambak seharusnya menjadi pengingat bahwa tidak ada persoalan yang menjadi lebih baik setelah dibalas dengan kekerasan. Yang tersisa hanyalah korban, penyesalan, dan keluarga yang kehilangan.

Biarlah polisi bekerja mengungkap siapa yang bersalah berdasarkan bukti, bukan berdasarkan teriakan massa atau narasi yang beredar di media sosial. Sebab negara hukum tidak dibangun di atas kemarahan, melainkan di atas fakta.

Pada akhirnya, bentrokan selalu memiliki pola yang sama: dimulai oleh ego, dibesarkan oleh emosi, lalu diakhiri dengan air mata. Yang berbeda hanyalah siapa yang pulang ke rumah dan siapa yang pulang tinggal nama. Begitu mudahnya manusia merasa menang dalam perkelahian, padahal yang sesungguhnya kalah adalah rasa kemanusiaan. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *