JEJAK KATA, Tangerang — Matahari baru saja mengusap ufuk timur ketika langkah-langkah pertama mulai menyusuri City Market CitraRaya. Uap hangat jagung kukus membumbung dari panci-panci besar, berpadu dengan aroma ubi rebus, dan semerbak jajanan yang menggoda selera. Di tengah wajah metropolitan Tangerang yang dipenuhi kawasan hunian modern dan pusat perbelanjaan megah, denyut kehidupan justru berpusat di sebuah pasar kaget yang hanya hadir setiap Minggu pagi.
Namanya memang pasar kaget. Namun yang mengejutkan bukan hanya ramainya pengunjung, melainkan kemampuannya mengubah pandangan tentang pasar kaki lima. Di sini, keramaian terasa tertata, bukan semrawut. Lapak-lapak berjejer rapi mengikuti deretan ruko, ruang pejalan kaki tetap lega, sementara arus kendaraan mengalir tanpa kemacetan yang berarti.
Pasar ini membuktikan bahwa ruang ekonomi rakyat dapat tampil bersih, nyaman, dan bersanding harmonis dengan wajah kota modern. Di sinilah belanja menjelma menjadi rekreasi.

Anak-anak berlarian sambil tertawa, sesekali berhenti di depan sangkar burung emprit warna-warni yang berkicau riang. Di sisi lain, orang tua sibuk memilih peralatan rumah tangga, sementara anak-anak muda memburu busana yang sedang viral di media sosial. Lapak demi lapak menghadirkan kejutan, dari arumanis yang manis seperti masa kecil, sosis bakar dan dimsum yang mengepul hangat, hingga aneka kuliner kekinian serta ikan marinasi yang siap dibawa pulang.
Semuanya berpadu dalam irama pasar yang hidup, ramai, tetapi tetap terasa nyaman.
Jika mal menawarkan pendingin ruangan, pasar ini menawarkan semilir angin pagi. Jika pusat perbelanjaan menyuguhkan etalase kaca, di sini langit biru menjadi atapnya, dan percakapan hangat antar pedagang menjadi musik pengiringnya.
Deretan lapak seolah tak ada habisnya. Busana wanita, pria, hingga anak-anak dipajang dengan penataan yang menarik. Produk bermerek berdampingan dengan fesyen lokal, membuktikan bahwa pasar rakyat mampu mengikuti selera zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, suasana semakin semarak. Nuansa merah putih mendominasi sejumlah lapak yang menawarkan berbagai atribut dan pakaian bertema nasionalisme. Tak jauh dari sana, celana bermotif gajah yang tengah viral ikut menjadi incaran. Motif khas Thailand itu bergelantungan rapi, seakan mengajak setiap orang untuk sekadar melihat, lalu tanpa sadar membawanya hingga ke kasir.

Begitulah pasar selalu pandai membaca arah angin zaman.
Namun denyut utama City Market CitraRaya tetap berada di antara kepulan uap dari kukusan serta aroma berbagai kudapan.
Seusai jogging mengelilingi kawasan CitraRaya, banyak pengunjung memilih berhenti sejenak. Jagung manis, ubi, talas, kacang-kacangan, hingga telur rebus tersusun rapi, mengepulkan aroma yang sederhana, tetapi akrab di ingatan.
Sarapan pagi tak harus mewah. Justru dari makanan-makanan yang dikukus itulah banyak orang menemukan rasa yang telah lama mereka rindukan—rasa rumah, rasa masa kecil, ketika makanan sehat tidak memerlukan nama asing agar terasa istimewa.
Sesekali terdengar gurauan di antara para pembeli.
“Jogging satu putaran, kalori balik lagi di lapak sebelah.”
Tawa pun pecah. Tak ada yang benar-benar menyesal. Sebab di pasar seperti ini, berburu makanan sama pentingnya dengan berburu kebersamaan.
Setiap pekan, ribuan warga dari CitraRaya dan berbagai kawasan di sekitarnya datang tanpa memandang usia maupun latar belakang. Ada keluarga muda, pekerja, lansia, hingga komunitas olahraga yang menjadikan pasar ini sebagai penutup aktivitas Minggu pagi mereka.
Mereka datang bukan hanya untuk berbelanja, melainkan untuk bertemu, berbincang, dan menikmati suasana yang perlahan mulai sulit ditemukan di kota-kota besar.
Pada akhirnya, pasar kaget bukan sekadar ruang transaksi. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat budaya konsumsi modern bersalaman dengan denyut pasar rakyat yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Di tengah derasnya ekspansi belanja daring dan menjamurnya pusat perbelanjaan modern, City Market CitraRaya menghadirkan pelajaran sederhana: pasar rakyat tidak harus kumuh untuk tetap dicintai. Dengan penataan yang baik, kebersihan yang terjaga, dan pengelolaan yang tidak mengganggu lalu lintas, pasar ini menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan dapat tumbuh berdampingan dengan wajah metropolitan.
Barangkali, itulah jawaban mengapa setiap Minggu pagi City Market CitraRaya selalu dipenuhi warga.
Mereka memang datang untuk berbelanja. Namun saat pulang, yang mereka bawa bukan hanya kantong-kantong belanja, melainkan juga sepotong suasana, segenggam kenangan, dan keyakinan bahwa di tengah kota yang terus berlari, masih ada ruang untuk menikmati pagi dengan langkah yang lebih pelan. (*






