JEJAK KATA, Tangerang – Di sebuah sudut Kabupaten Tangerang, langkah-langkah kecil sedang disusun dengan kesabaran. Bukan langkah menuju panggung gemerlap, melainkan langkah yang menapak dari pasar kaget, lorong pasar rakyat, hingga etalase digital. Di sanalah Anik Setiyani menaruh harapan pada sepasang sandal bermerek Tridaca.
Di tengah derasnya arus produk impor yang membanjiri pasar Indonesia, perjuangan pelaku usaha kecil sering kali menyerupai aliran sungai yang harus melawan arus. Persaingan bukan sekadar soal harga, tetapi juga tentang kepercayaan konsumen, kualitas, desain, dan kemampuan bertahan di tengah perubahan zaman.
Melalui Tridaca, Anik menghadirkan sandal dengan bahan Phylon: jenis sandal selop (slip-on), hingga sandal baim untuk pria, wanita, dan anak-anak. Desainnya dibuat sederhana namun tetap mengikuti selera pasar, dilengkapi sol anti licin agar nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan harga berkisar Rp25.000 hingga Rp45.000, Tridaca mencoba membuktikan bahwa produk lokal dapat tampil kompetitif tanpa harus membebani kantong masyarakat.
Namun, perjalanan sebuah produk lokal tidak pernah semudah memasang label pada kemasan. Ia harus memperkenalkan diri berulang kali, dari lapak sederhana di pasar rakyat hingga memanfaatkan ruang tanpa batas di marketplace. Setiap pembeli bukan sekadar transaksi, melainkan kepercayaan yang perlahan dibangun.
Di balik setiap pasang sandal, tersimpan cerita tentang industri kecil yang berusaha tetap hidup. Ada tenaga kerja yang menggantungkan penghasilan, ada keluarga yang berharap usahanya terus berputar, dan ada keyakinan bahwa karya anak bangsa pantas mendapat tempat di rumahnya sendiri.
Produk lokal sesungguhnya memiliki peluang besar untuk berkembang. Kedekatan dengan kebutuhan konsumen Indonesia, kemampuan beradaptasi terhadap tren, serta harga yang terjangkau menjadi modal penting untuk bersaing. Namun, modal itu belum cukup jika tidak diiringi dukungan ekosistem yang sehat.
Peran masyarakat menjadi sangat menentukan. Memilih produk lokal bukan sekadar keputusan berbelanja, tetapi juga investasi bagi tumbuhnya industri kecil yang menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi daerah. Di sisi lain, pemerintah memiliki ruang strategis untuk memperkuat daya saing UMKM melalui kemudahan akses permodalan, pelatihan desain dan pemasaran digital, perluasan promosi, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.
Pada akhirnya, persaingan tidak harus dimaknai sebagai pertarungan yang saling menyingkirkan. Produk lokal dan produk impor dapat hadir dalam kompetisi yang sehat, di mana kualitas, inovasi, dan pelayanan menjadi penentu utama pilihan konsumen.
Langkah Tridaca mungkin dimulai dari sepasang sandal. Namun, setiap langkah kecil yang terus dijaga dapat menjadi jejak panjang menuju kemandirian industri lokal. Sebab, sebuah bangsa yang kuat bukan hanya mampu membeli produknya sendiri, tetapi juga bangga mengenakannya, selangkah demi selangkah. (*






