Esai

Pentingnya Negarawan Bercermin dari Bung Hatta, Santun dan Beradab

×

Pentingnya Negarawan Bercermin dari Bung Hatta, Santun dan Beradab

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

ESAI — Di negeri ini, seorang pejabat bisa membuat rakyat mengernyitkan dahi hanya gara-gara satu kalimat. Mikrofon belum dimatikan, kontroversi sudah menyebar. Rakyat pun bertanya-tanya: ini pidato kenegaraan atau latihan menguji kesabaran?

Barangkali para pemimpin perlu sesekali bercermin kepada Bung Hatta. Bukan untuk meniru gaya bicaranya secara harfiah, melainkan belajar bahwa jabatan tinggi tidak harus membuat seseorang berbicara tinggi hati.

Bung Hatta dikenal sebagai pemimpin yang santun, sederhana, dan teguh memegang prinsip. Ada kisah tentang sekretarisnya yang ditegur karena menggunakan tiga lembar kertas berkop Sekretariat Negara untuk keperluan pribadi. Hatta meminta kertas itu diganti dengan uang sendiri. Bagi sebagian pejabat hari ini, tiga lembar kertas mungkin tak lebih mahal daripada parkir kendaraan dinas. Namun, bagi Hatta, persoalannya bukan harga kertas. Persoalannya adalah batas antara milik negara dan milik pribadi.

Ada pula kisah tabungannya untuk membeli sepatu Bally yang tidak pernah kesampaian hingga akhir hayat. Cerita ini kerap dikenang sebagai gambaran kesederhanaan Hatta. Sepatu tetap menjadi sepatu, tetapi keinginan tidak lantas mengalahkan prinsip.

Rakyat biasa mungkin tidak paham teori etika pemerintahan. Tetapi mereka mengerti satu hal: kalau uang sendiri saja dihitung, mengapa uang negara boleh diperlakukan seperti uang warisan?

Di sinilah teladan Hatta terasa mengganggu—dalam arti yang baik. Ia seperti cermin tua yang diletakkan di depan pejabat masa kini. Bukan untuk mempermalukan, melainkan memperlihatkan bahwa kekuasaan bisa dijalankan tanpa harus mengumbar kata-kata yang melukai.

Pemimpin boleh tegas. Boleh mengkritik. Boleh berbeda pendapat. Tetapi ketegasan tidak perlu dipelihara dengan penghinaan. Orang yang memegang jabatan tinggi semestinya tidak kehilangan kemampuan berkata baik-baik.

Sebab rakyat tidak hanya menilai apa yang dibangun pemerintah, tetapi juga bagaimana pemimpinnya berbicara. Jalan bisa diperbaiki, gedung bisa dicat ulang, anggaran bisa disusun. Namun, ucapan yang telanjur melukai sering kali lebih sulit ditambal daripada aspal berlubang.

Bung Hatta mungkin tidak pernah membeli sepatu Bally. Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal: teladan bahwa kehormatan seorang pemimpin tidak diukur dari merek sepatunya, melainkan dari cara ia memperlakukan negara dan manusia.

Dan mungkin, itu pelajaran yang layak diingat sebelum mikrofon dinyalakan. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *