JEJAK KATA, Tangerang – Malam memang punya cara sendiri untuk mengubah sebuah jalan biasa menjadi luar biasa. Pohon yang siang hari tampak teduh, mendadak terlihat angker. Bayangan tiang listrik berubah menjadi sosok yang seolah sedang berdiri diam. Ditambah lampu kendaraan yang datang bergantian, lengkaplah suasana yang membuat bulu kuduk bekerja lembur.
Di Tangerang Raya, cerita semacam itu bukan barang baru. Dari warung kopi hingga grup WhatsApp warga, selalu ada kisah tentang ruas jalan yang konon menyimpan aura mistis. Benar atau tidak, cerita-cerita itu telah menjadi bagian dari folklore modern—kearifan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu yang paling sering disebut adalah Jalur Sutera atau Jalan Raya Serpong. Kawasan yang pada siang hari ramai oleh kendaraan itu berubah sunyi ketika malam larut. Sebagian warga mengaku pernah melihat sosok perempuan berbaju putih di sekitar jembatan penyeberangan. Cerita itu terus hidup, meski tak pernah bisa dibuktikan secara objektif. Bisa jadi, perpaduan cahaya lampu, kabut tipis, atau kelelahan pengendara membuat mata menangkap sesuatu yang berbeda. Namun, bagi sebagian orang, kisah itu sudah telanjur menjadi bagian dari identitas jalan tersebut.
Berbeda lagi dengan Jalan Raya Mauk. Jalur alternatif ini memiliki beberapa ruas yang minim Penerangan Jalan Umum (PJU). Kondisi gelap, pepohonan di sisi jalan, dan lalu lintas yang mulai lengang pada malam hari melahirkan berbagai cerita. Ada yang mengaku mendengar tangisan misterius, ada pula yang bercerita tentang sosok tanpa kepala. Sulit memastikan mana pengalaman nyata, mana cerita yang berkembang dari mulut ke mulut. Yang pasti, suasana jalan yang gelap memang mudah memancing imajinasi.
Lalu ada Jalan Raya Cadas yang menghubungkan Sepatan dan Neglasari. Ruas ini lebih dikenal sebagai kawasan yang cukup rawan kecelakaan pada beberapa titik. Dari sanalah muncul kisah tentang penampakan korban kecelakaan. Dalam banyak kasus, cerita semacam ini lahir sebagai bentuk ingatan kolektif masyarakat terhadap peristiwa tragis yang pernah terjadi. Mitos kemudian menjadi “alarm sosial” agar pengendara lebih berhati-hati saat melintas.
Cerita serupa juga melekat pada salah satu ruas Jalur Sutera di sisi Tol Tangerang–Merak. Jalan yang relatif sepi dengan pepohonan besar di sekitarnya kerap dikaitkan dengan sosok penunggu pohon. Lagi-lagi, belum ada bukti yang dapat memverifikasi cerita tersebut. Namun, keberadaan pohon tua yang berdiri sendirian di tengah suasana sunyi memang mudah memunculkan beragam tafsir.
Menariknya, hampir semua kisah mistis memiliki pola yang sama. Lokasinya cenderung gelap, sepi, minim aktivitas, atau pernah menjadi lokasi kecelakaan. Dalam dunia psikologi, kondisi seperti itu dapat membuat otak lebih mudah salah menafsirkan bayangan, suara, atau objek yang sebenarnya biasa saja. Ketika seseorang sudah lebih dulu mendengar cerita horor tentang sebuah tempat, sugesti sering kali ikut mengambil alih.
Namun, apa pun penjelasannya, cerita-cerita tersebut telah menjadi bagian dari budaya lisan masyarakat Tangerang. Ia hidup bukan semata karena ingin menakut-nakuti, tetapi juga menjadi pengingat agar pengendara tidak lengah, mengurangi kecepatan di jalan yang gelap, dan selalu waspada.
Jadi, jika suatu malam Anda melintasi Jalan Raya Mauk, Jalur Sutera, atau Jalan Raya Cadas, tak perlu buru-buru mencari sosok yang tak kasatmata. Lebih baik fokus pada jalan di depan, patuhi batas kecepatan, dan pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Sebab, dalam banyak kasus, yang paling berbahaya di jalan bukanlah cerita mistis, melainkan rasa kantuk, kelalaian, dan pengendara yang terlalu percaya diri. (*






