OPINI — Palu konferensi telah diketuk. Suara telah dihitung. Hendra Wijaya akhirnya mendapat mandat memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Tangerang periode 2026-2029. Ia memperoleh 20 suara dari 34 pemilih tetap, mengungguli Muhammad Romli yang meraih 14 suara.
Namun, angka-angka itu kini semestinya diletakkan di belakang. Sebab setelah sebuah kontestasi selesai, yang jauh lebih penting bukan lagi siapa yang memilih siapa, melainkan apa yang bisa dilakukan bersama setelah pilihan ditetapkan. Di situlah Hendra Wijaya mendapat pekerjaan rumah yang sesungguhnya.
Memimpin organisasi wartawan bukan perkara duduk di kursi ketua, menghadiri undangan, atau memasang nama dalam papan struktur organisasi. Jabatan itu adalah amanah. Dalam filosofi Jawa, amanah semacam ini ibarat pikulan: semakin besar yang dipikul, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dibawa.
Dan Hendra kini sedang memikulnya. Kemenangan 20 suara adalah pintu masuk. Setelah pintu itu terbuka, ada lorong panjang yang harus dilalui.
Harapannya, Hendra mampu menjadikan PWI Kabupaten Tangerang sebagai rumah bersama bagi seluruh anggotanya. Senior dan junior tidak lagi berdiri dalam kotak-kotak kecil. Perbedaan pilihan dalam konferensi cukup menjadi catatan demokrasi, bukan menjadi dendam yang dibawa pulang.
Ada ungkapan Jawa yang sangat relevan untuk situasi ini: rukun agawe santosa. Kerukunan membuat organisasi kuat.
Hendra sendiri telah menyampaikan ajakan agar seluruh anggota kembali bersatu setelah konferensi. Ia menegaskan bahwa kemenangan tersebut bukan semata kemenangan dirinya, melainkan kemenangan bersama.
Pernyataan itu patut diberi ruang untuk dibuktikan. Sebab pemimpin yang baik bukan hanya pandai memenangkan kepercayaan dalam pemilihan, tetapi juga mampu mengubah kepercayaan itu menjadi energi bersama.
PWI Kabupaten Tangerang membutuhkan energi tersebut. Dunia jurnalistik sedang berubah cepat. Wartawan tidak cukup hanya mampu menulis. Mereka dituntut memahami teknologi, kecerdasan buatan, media sosial, verifikasi informasi, etika jurnalistik, hingga model bisnis media yang terus berubah.
Di tengah perubahan itu, organisasi profesi seharusnya hadir bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai pamong—pengayom yang membantu anggotanya tumbuh.
Hendra punya kesempatan untuk membawa PWI Kabupaten Tangerang ke arah tersebut. Program peningkatan kompetensi wartawan, diskusi jurnalistik, pelatihan teknologi dan kecerdasan buatan, penguatan jaringan antar media, hingga ruang bertukar gagasan antar anggota dapat menjadi bagian dari pekerjaan besar itu.
PWI juga perlu tetap menjadi organisasi yang adem ayem, tetapi bukan berarti kehilangan sikap kritis. Adem bukan berarti diam. Guyub bukan berarti selalu setuju.
Justru organisasi yang sehat adalah organisasi yang anggotanya bisa berbeda pendapat tanpa harus bermusuhan.
Dalam bahasa Jawa, ada istilah rembug—bermusyawarah untuk mencari jalan bersama. Tradisi semacam ini penting dirawat. Sebab banyak persoalan organisasi sering kali bukan karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena orang-orang terlalu sibuk mencari siapa yang salah.
Hendra dapat memulai kepemimpinannya dengan membuka ruang rembug itu. Pintu komunikasi harus dibuat selebar mungkin.
Mereka yang mendukungnya tentu berharap kepemimpinannya membawa perubahan. Mereka yang tidak memilihnya pun layak mendapatkan tempat yang sama sebagai bagian dari keluarga besar PWI Kabupaten Tangerang.
Di sinilah ungkapan menang tanpa ngasorake menemukan maknanya: menang tanpa merendahkan yang lain.
Jika Hendra mampu menjalankan prinsip itu, kemenangan 20 suara dapat berkembang menjadi kepercayaan yang jauh lebih besar.
Dan jika ia mampu membuat anggota merasa dihargai, organisasi akan memiliki modal sosial yang tidak tercatat dalam lembar berita acara konferensi.
Tentu tidak semua pekerjaan akan berjalan mulus. Akan ada kritik, perbedaan pandangan, bahkan mungkin keputusan yang tidak memuaskan semua pihak. Itu bagian dari perjalanan. Pemimpin tidak harus selalu benar. Tetapi pemimpin harus bersedia mendengar.
Dalam tradisi Jawa ada istilah andhap asor—rendah hati dan tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sikap seperti ini justru penting bagi seorang ketua organisasi profesi.
Sebab semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak mata yang melihat dan semakin banyak telinga yang mendengar. Karena itu, dukungan kepada Hendra Wijaya bukanlah cek kosong.
Dukungan adalah harapan agar ia mampu menjalankan amanah dengan baik. Dukungan juga berarti memberi ruang bagi kepemimpinan untuk bekerja, sekaligus memberikan kritik ketika organisasi membutuhkan koreksi.
Dengan begitu, hubungan antara ketua dan anggota tidak berhenti pada slogan. Ia menjadi kerja bersama.
Kini Hendra telah terpilih. Saatnya membuktikan bahwa konferensi bukan garis akhir, melainkan wiwitan—awal dari perjalanan baru.
PWI Kabupaten Tangerang membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul, bukan sekadar mengatur. Membuka pintu, bukan membuat sekat. Mendengar kritik, bukan alergi terhadap kritik. Dan yang paling penting, mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok.
Jika Hendra mampu melakukan itu, bukan tidak mungkin tiga tahun ke depan menjadi periode yang meninggalkan kesan baik bagi PWI Kabupaten Tangerang.
Sebab pada akhirnya, ukuran seorang ketua bukan berapa suara yang diperolehnya ketika dipilih. Ukuran sesungguhnya adalah berapa banyak orang yang merasa ikut tumbuh ketika ia memimpin.
Selamat mengemban amanah, Hendra Wijaya. Kini waktunya guyub, gayeng, lan nyambut gawe—bersatu, membangun suasana baik, lalu bekerja. Dan, PWI Kabupaten Tangerang sedang menunggu langkah pertamamu. (*
Oleh: Jejak Kata






