INSPIRATIF — Pakde Kardiyo punya cara sederhana untuk menjelaskan bagaimana menjalani hidup: nyelengi. Dalam bahasa Jawa, nyelengi berarti menabung. Namun bagi Pakde Kardiyo, yang ditabung bukan hanya uang. Ada kebaikan yang juga perlu disisihkan—sedikit demi sedikit, tanpa banyak suara.
Ia percaya hidup akan lebih tentrem ayem, tidak perlu nggrangsang mengejar segala sesuatu.
Pandangan itu tidak lahir dari teori. Pakde Kardiyo mengaku belajar dari pengalaman hidup, termasuk ketika merintis usaha dengan modal sekitar Rp5 juta. Usaha itu kemudian berkembang dan mampu membuka pekerjaan bagi orang lain. Dari rezeki yang diperoleh, ia memilih menyisihkan sebagian untuk memberi manfaat.
“Semua seperti itu, segala nikmat yang kita dapat, itu adalah sebagai imbalan dari bentuk syukur kita kepada Gusti Allah. Bagaimana cara kita harus bersyukur, ya kita melakukan apa yang kita mampu dan apa yang kita punya,” ujar Pakde Kardiyo.
Baginya, memberi tidak selalu harus berupa uang. Pengetahuan, tenaga, perhatian, bahkan membuat orang lain merasa senang juga merupakan bentuk kebaikan.
“Kalau kita mampu membantu secara materi, ya kita bantu. Kalau kita bisa membantu lewat pengetahuan, atau dengan apa saja yang bisa membuat orang lain senang, gembira, ya kita lakukan saja. Nanti semua itu akan kembali ke kita,” katanya.
Menabung yang Tak Masuk Buku Tabungan
Pakde Kardiyo percaya kebaikan memiliki cara sendiri untuk berkembang. Satu tindakan baik bisa memunculkan tindakan baik lainnya. Karena itu, ia justru menganggap sebuah permintaan pertolongan bukan sebagai beban.
Berbahagialah, katanya, ketika ada orang datang meminta kebaikan. Sebab bisa jadi orang tersebut sedang membawa kesempatan untuk menambah “tabungan” yang tak tercatat di rekening mana pun.
Gagasan itu sejalan dengan prinsip tabur-tuai: apa yang ditanam akan dipetik. Dalam ajaran Islam, kebaikan bahkan digambarkan dapat dilipatgandakan. Al-Baqarah ayat 261 mengibaratkan kebaikan seperti benih yang menghasilkan bulir-bulir berlipat.
Kebaikan juga dapat menular. Orang yang menerima pertolongan bisa terdorong melakukan hal serupa kepada orang lain. Dari satu orang, berpindah ke orang berikutnya. Seperti efek domino, tetapi dengan hasil yang jauh lebih menyenangkan.
Maka, bagi Pakde Kardiyo, hidup bukan semata perkara berapa banyak yang berhasil dikumpulkan. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: berapa banyak manfaat yang sempat ditinggalkan?
Menabung uang mungkin membuat seseorang lebih siap menghadapi hari esok. Menabung kebaikan, menurut Pakde Kardiyo, membuat perjalanan hidup terasa lebih ayem.
Tak perlu menunggu kaya untuk memulai. Senyum, berbagi pengetahuan, membantu orang yang kesulitan, atau sekadar membuat seseorang merasa tidak sendirian pun bisa menjadi awal.
Sebab kebaikan, seperti tabungan, bekerja lewat kebiasaan. Sedikit hari ini, sedikit lagi besok. Lama-lama menjadi banyak.
Dan mungkin itulah cara Pakde Kardiyo memahami syukur: bukan hanya menikmati rezeki yang datang, tetapi ikut membuat rezeki itu punya manfaat bagi orang lain. (*






