Jejak KataOpini Pinggiran

Tawuran: Ketika Jalanan Menggantikan Ruang Belajar

×

Tawuran: Ketika Jalanan Menggantikan Ruang Belajar

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

ADA ironi yang terus berulang di banyak kota di Indonesia. Di siang hari, sekolah mengajarkan persaudaraan, gotong royong, dan karakter. Menjelang malam, sebagian anak yang sama justru saling mengejar dengan celurit di jalanan. Seragam boleh dilepas, tetapi kemarahan tetap dikenakan.

Tawuran bukan lagi sekadar kenakalan remaja. Ia telah berevolusi menjadi pertunjukan yang nyaris memiliki “jadwal tetap”. Lokasinya berganti, pelakunya berganti, tetapi polanya hampir tidak pernah berubah. Video beredar di media sosial, polisi datang, beberapa pelaku ditangkap, lalu semua kembali tenang. Hingga tawuran berikutnya meledak.

Yang berubah hanya jumlah penonton di media sosial.

Di balik setiap tawuran, ada kegagalan yang lebih besar daripada sekadar pengawasan orang tua. Tawuran adalah alarm yang menandakan banyak ruang pendidikan sedang kosong. Bukan ruang kelasnya, melainkan ruang dialog, ruang bermain, ruang berekspresi, dan ruang untuk merasa dihargai.

Banyak remaja hari ini tumbuh di tengah paradoks. Mereka terhubung dengan ribuan orang lewat gawai, tetapi kesepian dalam kehidupan nyata. Mereka mengenal banyak akun media sosial, tetapi tak memiliki cukup orang dewasa yang benar-benar mendengar cerita mereka.

Dalam kondisi seperti itu, kelompok menjadi tempat mencari identitas. Solidaritas berubah menjadi loyalitas buta. Harga diri diukur dari keberanian membawa senjata, bukan keberanian meminta maaf.

Ironisnya, masyarakat sering kali lebih sibuk merekam daripada mencegah. Ketika dua kelompok remaja saling serang, kamera telepon seluler justru lebih cepat menyala daripada naluri untuk melerai. Tawuran pun berubah menjadi konten. Kekerasan memperoleh panggung, sementara empati kehilangan penonton.

Di sisi lain, pendekatan yang hanya mengandalkan penangkapan juga memiliki batas. Menangkap pelaku memang penting, tetapi penjara tidak selalu mampu memperbaiki akar persoalan. Kalau sumber masalahnya adalah kehilangan arah, maka hukuman tanpa pembinaan hanya memindahkan masalah ke waktu yang berbeda.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian orang dewasa justru memberi contoh yang buruk. Di televisi, di media sosial, bahkan di ruang politik, perdebatan sering berubah menjadi saling menghina. Orang dewasa mempertontonkan permusuhan dengan kata-kata, lalu heran ketika anak-anak menerjemahkannya menjadi pukulan.

Sulit meminta remaja menghargai perbedaan jika mereka setiap hari menyaksikan orang dewasa merayakan permusuhan.

Karena itu, solusi tawuran tidak cukup dengan patroli malam atau razia senjata. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum celurit diayunkan. Sekolah perlu menjadi ruang yang menyenangkan, bukan sekadar tempat mengejar nilai. Guru perlu diberi ruang untuk menjadi pendidik, bukan hanya pengajar. Orang tua perlu lebih banyak hadir, bukan sekadar menyediakan uang saku.

Pemerintah daerah pun memiliki pekerjaan rumah. Lapangan olahraga, taman, perpustakaan, sanggar seni, hingga komunitas kreatif bukan sekadar fasilitas pelengkap. Tempat-tempat itulah yang sering kali menyelamatkan anak muda dari jalanan. Remaja yang sibuk berkarya biasanya tidak punya waktu mengatur jadwal tawuran.

Media juga memiliki tanggung jawab. Memberitakan tawuran memang penting, tetapi jangan sampai pemberitaan justru menjadikan pelaku sebagai selebritas dadakan. Yang perlu dipopulerkan adalah kisah mereka yang berhasil keluar dari lingkaran kekerasan, bukan sekadar adegan saling bacok yang berulang.

Pada akhirnya, tawuran bukan persoalan siapa yang menang di jalan. Dalam setiap tawuran, sesungguhnya semua kalah. Orang tua kehilangan ketenangan, sekolah kehilangan wibawa, masyarakat kehilangan rasa aman, dan bangsa kehilangan sebagian masa depannya.

Negeri ini tidak kekurangan anak-anak pemberani. Yang kurang adalah keberanian kita, orang-orang dewasa, untuk berhenti saling menyalahkan dan mulai membangun lingkungan yang membuat mereka tak lagi merasa harus mencari kehormatan di ujung senjata.

Sebab, kota yang benar-benar maju bukanlah kota yang memiliki patroli terbanyak, melainkan kota yang membuat anak-anaknya lebih tertarik membawa mimpi daripada membawa celurit. (*


Oleh: Widi Hatmoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *