Soft News

Kelenteng Tertua di Jawa dan Jejak Tionghoa yang Tersisa di Lasem

×

Kelenteng Tertua di Jawa dan Jejak Tionghoa yang Tersisa di Lasem

Sebarkan artikel ini
Klenteng Cu Ankong di Jl. Dasun No.19, Pereng, Soditan, Kec. Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

JEJAK KATA, Lasem — Sebelum disebut kelenteng, tempat ibadah masyarakat Tionghoa memiliki banyak nama. Di kalangan masyarakat Hokkian, ia dikenal sebagai bio. Ada pula yang menyebutnya tokong.

Istilah kelenteng sendiri kerap dikaitkan dengan bunyi lonceng yang dibunyikan dalam ritual keagamaan. Nama yang sederhana untuk bangunan yang menyimpan sejarah panjang tentang migrasi, perdagangan, kebudayaan, sekaligus pergulatan masyarakat Tionghoa di Nusantara.

Bangunan-bangunan semacam ini mudah ditemukan di kota-kota yang sejak lama menjadi tempat bermukim masyarakat peranakan Tionghoa: Jakarta, Semarang, Surabaya, Tangerang, hingga sejumlah kota pesisir Jawa.

Tetapi Lasem memiliki cerita lain.

Di kota kecil Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berdiri Kelenteng Cu An Kiong. Kelenteng ini dipercaya sebagai salah satu yang tertua di Pulau Jawa. Usianya bahkan disebut-sebut telah melampaui lima abad.

Bagi Lasem, kelenteng bukan sekadar tempat ibadah. Ia seperti arsip yang kebetulan tidak ditulis di atas kertas.

Gandor Sugiharto alias Sie Hwie Djian, tokoh masyarakat Tionghoa Lasem, mengatakan Cu An Kiong diperkirakan telah berdiri sejak sekitar abad ke-15.

Masalahnya, sejarah tua sering kali tidak datang bersama map arsip yang lengkap.

Pada masa penjajahan Belanda, kelenteng itu disebut pernah dijarah. Sejumlah dokumen lama pun tidak lagi tersimpan. Akibatnya, menentukan tanggal persis pendirian Cu An Kiong menjadi perkara yang lebih rumit daripada sekadar membuka buku sejarah.

Ada satu petunjuk yang kemudian menjadi bahan perbincangan.

Menurut Gandor, pengurus kelenteng pernah mendatangi sebuah museum di Den Haag, Belanda. Di sana terdapat catatan yang menyebut Cu An Kiong telah berdiri pada 1477 Masehi. Petunjuknya berasal dari peta Lasem yang dibuat pada tahun tersebut, yang disebut telah mencantumkan lokasi kelenteng.

Tetapi sejarah tidak selalu sepakat dengan satu angka.

Ada pula pendapat yang menyebut kelenteng tersebut telah berdiri jauh lebih awal, yakni sekitar 1335. Mana yang benar? Belum ada kepastian tunggal.

Justru di situlah menariknya Cu An Kiong. Ia tidak hanya menyimpan benda-benda tua, tetapi juga menyimpan teka-teki tentang masa lalu Lasem.

Jika perkiraan 1477 benar, bangunan itu telah menyaksikan berabad-abad perubahan: datangnya para pedagang dari berbagai penjuru, tumbuhnya permukiman Tionghoa, pergantian kekuasaan, kolonialisme, hingga lahirnya Indonesia.

Jika pendapat 1335 yang mendekati kebenaran, usianya bahkan lebih tua lagi. Cu An Kiong kini menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Lasem. Letaknya berada di Jalan Dasun Nomor 19, Pereng, Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Di tengah kota yang dikenal sebagai salah satu simpul sejarah Tionghoa di Jawa itu, kelenteng tersebut bertahan bukan hanya karena bangunannya. Ia bertahan karena ingatan.

Dan barangkali itu sebabnya usia Cu An Kiong masih terus diperdebatkan. Sebab ketika dokumen hilang, sejarah tidak serta-merta ikut lenyap. Ia berpindah tempat—ke bangunan, peta tua, cerita keluarga, dan ingatan orang-orang yang masih bersedia mengulanginya.

Lasem, dengan segala lapisan sejarahnya, seperti sedang mengatakan satu hal: sebuah kota tidak selalu menyimpan masa lalu di museum. Kadang-kadang, masa lalu itu masih berdiri di pinggir jalan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *