EsaiJejak Kata

Grebeg Suro CitraRaya adalah Bukti Rakyat Merindukan Budaya

×

Grebeg Suro CitraRaya adalah Bukti Rakyat Merindukan Budaya

Sebarkan artikel ini
Salah satu prosesi kegiatan Grebeg Suro yang digagas oleh Ikatan Keluarga Gunung Kidul di CitraRaya Tangerang

GREBEG Suro yang digelar oleh paguyuban Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) pada Malam 1 Suro, 15 Juni 2026 lalu, adalah peristiwa budaya yang bisa menjadi rujukan, betapa pentingnya gotong royong dalam mengangkat budaya yang menjadi identitas, jati diri serta warisan yang harus tetap lestari.

Bukan dari anggaran pemerintah, baik APBD maupun APBN, tetapi berangkat dari kecintaan serta ketulusan dalam merawat warisan leluhur, event “Grebeg Suro” yang dihelat di kawasan moderen CitraRaya Tangerang ini mampu menyedot perhatian publik. Tidak sekadar hiburan di tengah hiruk pikuk dan ancaman dekadensi moral, tetapi sebuah ajang edukasi tentang pentingnya merawat jati diri.

Sebagai pemerhati budaya, penulis memberikan acungan jempol kepada jajaran panitia yang mampu “menggendam” masyarakat dari latar belakang serta suku dan daerah yang berbeda, “Tumpek Blek” meski di tengah rintikan hujan.

Grebeg Suro yang digagas oleh Ikatan Keluarga Gunung Kidul di CitraRaya Tangerang menjadi daya tarik wisata budaya di daerah berjuluk Kota Seribu Industri

Mengobati kerinduan masa kecil di kampung halaman, menyaksikan sesuatu yang sebelumnya hanya melihat dan membaca dari media mainstream maupun media sosial. Semua menjadi cerita yang membekas, dan mungkin akan menjadi sebuah kerinduan.

Dari situlah, sebagai pelestarian budaya, Grebeg Suro yang digagas oleh Ikatan Keluarga Gunungkidul di Parkir Utara Mal Ciputra CitraRaya Tangerang, bukan sekadar cerita dan retorika. Tetapi aksi nyata dan sebagai bukti bahwa rakyat sangat merindukan budaya dan jati diri Nusantara.

Hal ini juga menjawab bahwa jika hari ini banyak generasi kita yang tidak mengetahui budayanya sendiri, mudah terpengaruh arus budaya yang tidak menunjukkan jati diri sebagai generasi kaya dengan warisan budaya yang adiluhung, itu karena kita kurang merawat apa yang kita punya.


Penulis:
Widi Hatmoko
Jurnalis/Pemerhati Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *