Seniman Akademis dan Otodidak
Sementara Dedy Sufriadi dalam pengantarnya mengawali tulisan pameran tiga pelukis perempuan Hani, Inanike dan Dina dengan sebuah pertanyaan mendasar tentang “seberapa penting pendidikan formal seni dalam menunjang kreatifitas dan karir seorang seniman?”,
Dedy setelah membabar sejarah pendidikan formal akademi seni di Indonesia dan pengaruhnya dalam perkembangan seni rupa Indonesia beserta tokoh-tokoh seniman yang akademik maupun yang otodidak.
Kemudian Dedy menjawab pertanyaan apakah akademi itu menjadi syarat untuk menjadi seniman, jawaban nya “tidak mutlak”. Karena persoalan menjadi seorang seniman itu bukan hanya persoalan teknis.
Menurut Dedy ada banyak cara dan varian yang bisa ditempuh, hal-hal non teknis jauh lebih rumit untuk dipelajari, tetapi kalau ada kemungkinkan untuk menempuh jalur akademi, itu jauh lebih baik, iklim yang kondusif akan melahirkan seniman yang kuat.
“Tulisan ini sama sekali tidak akan membahas tentang karya yang dipamerkan, hala-man menulis yang terbatas tidak akan cukup membahas persoalan estetika karya panjang lebar, walaupun ketiganya sama-sama pelukis ekspresionis, akan lebih menarik kalau kita bergibah tentang proses hijrah mereka menjadi seniman,” ujar Dedy yang mengaku teman curhat emak emak ini






